Jumat, 06 Januari 2012

SEJARAH SINGKAT SUKU BAJAU


Suku Bajau adalah suku bangsa yang tanah asalnya Kepulauan Sulu, Filipina Selatan. Suku ini merupakan suku nomaden yang hidup di atas laut, sehingga disebut gipsi laut. Suku Bajau menggunakan bahasa Sama-Bajau. Selain itu, suku Bajau di bagi menjadi dua dialek di antaranya adalah Bajau Sama’ dan Bajau Pala’u. Bajau Sama merupakan penduduk yang beragama muslim sedangkan Bajau Pela’u menurut penduduk asli suku bajau mereka mengatakan bahwa bajau pela’u adalah suku yang yang memiliki kepercayaan yang masih bersifat animisme dan dinamisme (non muslim). Suku Bajau sejak ratusan tahun yang lalu sudah menyebar ke negeri Sabah (Malaysia) dan berbagai wilayah Indonesia. Suku Bajau juga merupakan anak negeri di Sabah. Suku-suku di Kalimantan diperkirakan bermigrasi dari arah utara (Filipina) pada zaman prasejarah. Suku Bajau yang Muslim ini merupakan gelombang terakhir migrasi dari arah utara Kalimantan yang memasuki pesisir Kalimantan Timur yang meliputi Kabupaten Berau, Samarida, Bontang, dan Tarakan, hingga Kalimantan Selatan dan menduduki pulau-pulau sekitarnya. Suku bajau lebih dahulu daripada kedatangan suku-suku Muslim dari rumpun Bugis yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Mandar. Kebebasan telah melekat di dalam kehidupan komunitas laut Bajau Pela’u sejak masa leluhur. Mereka telah terbiasa hidup di atas perahu di wilayah perairan tanpa mengenal batas administrasi suatu negara.
     Komunitas ini pergi ke darat hanya untuk mencukupi kebutuhan hidup, perbekalan, dan menjual hasil tangkapan. Kini, komunitas laut Bajau Pela’u tengah menghadapi perubahan, termasuk kewajiban memiliki identitas. Akibat tidak memiliki identitas ini mereka dituduh telah mencuri ikan di perairan Indonesia. Suku Bajau Pela’u adalah bagian dari Suku Bajau yang hidup di atas perahu, dari lahir hingga kematiannya, seperti nenek moyang bangsa Bajau. Menahan mereka terlalu lama di darat akan membuat mereka semakin lemah dan sakit. Suku ini merupakan kelompok masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi, yang kehidupan umum-nya berlangsung di laut. Bahkan mereka lahir-pun di laut. Suku Bajau Pela’u juga termasuk kelompok etnis yang masih berada dalam kondisi ekonomi, sosial dan budaya yang belum berkembang. Di antara mereka ada yang masih hidup secara primitif dan bertempat tinggal di atas perahu kecil bersama istri, anak-anak serta anggota keluarga lainnya. Namun tidak semua orang Bajau hidup seperti itu. Orang Bajau percaya bahwa laut itu berpenghuni, di sana ada semua ciptaan Tuhan, sehingga orang Bajau selalu berhati-hati kalau turun ke laut. Mereka juga menempatkan unsur api, angin, tanah, dan air sebagai nilai sakral tinggi. Keempat unsur ini merupakan cerminan empat unsur penting lainnya, yaitu tubuh, hati, nyawa, dan manusia. Suku ini juga dikenal sebagai pelaut ulung yang hidup mati-nya di laut, dan mampu menyelam di laut dalam jangka waktu lama tanpa alat bantu sama sekali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar